Sejarah Desa
Menelusuri jejak peradaban dan perkembangan Desa Selorejo dari masa ke masa.
Dokumentasi Desa Selorejo
Desa Selorejo yang dikenal saat ini awalnya memiliki akar sejarah yang kuat dengan nama "Watugedhe". Nama ini merujuk pada keberadaan dua batu raksasa tak lazim yang dipercaya memiliki daya mistis (hingga kini batu tersebut masih berada di lokasi aslinya). Perjalanan desa ini dimulai sekitar pertengahan abad ke-18 pasca Perang Diponegoro. Para pionir, yakni Mbah H. Turejo dan Mbah Sayang, bersama rombongan pelarian dari Mataram Islam yang melawan kolonial Belanda, melakukan "Babat Alas" atau pembukaan lahan di tengah hutan lebat lereng gunung sebagai hunian baru.
Seiring waktu, nama Watugedhe bertransformasi menjadi Selorejo, yang diambil dari kombinasi kata "Selo" (batu) dan "Rejo" (diambil dari nama Mbah H. Turejo), melambangkan wilayah berbatu yang dibangun dan dimakmurkan oleh sang pendiri.
Sebelum dikenal sebagai penghasil jeruk, wilayah Selorejo merupakan lahan subur yang didominasi oleh tanaman sayur-mayur. Transformasi besar terjadi pada awal dekade 1990-an ketika muncul inisiatif dari dua tokoh masyarakat visioner, Abah Sulaiman dan Abah Dulawi. Mereka mulai merintis penanaman bibit jeruk keprok setelah melihat potensi topografi desa yang berada di ketinggian 650-1000 mdpl dengan suhu udara sejuk yang sangat ideal bagi pertumbuhan jeruk.
Memasuki era modern, potensi agrikultur ini dikembangkan lebih jauh menjadi sektor pariwisata yang terintegrasi. Pada tahun 2011, Pemerintah Kabupaten Malang secara resmi mencanangkan Selorejo sebagai "Desa Wisata Jeruk". Kini, Selorejo telah mengukuhkan posisinya sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Jawa Timur yang mandiri dan berkelanjutan.
Jejak Waktu Sejarah